Smile in De Pluie

Aghilia Ummu Syahida)*
Ribuan air hujan itu, entah sudah berapa banyak yang menampar-nampar pipi Ayesha pagi ini, jalanan lengang tak seperti biasanya.
"Aih..perihnya", Ayesha mengusap - usap pipinya sambil tetap konsentrasi menatap jalanan berkabut di depannya.
Pagi ini memang tak seperti biasanya,  Ayesha tidak terlalu suka bersentuhan langsung dengan hujan, ia lebih memilih membaca buku, menikmati vanilla latte dan memandangi hujan dari kaca jendela. Tapi kali ini terpaksa ia harus keluar dan mengorbankan pipinya untuk ditampar air langit itu.
  "Kalau tidak ada janji pagi ini, mana mau aku berjalan di tengan hujan deras begini. Huft.. tak apalah, anggap aja pagi - pagi mandi dua kali"
  ==========)|(==========

"Ayesha..Ayesha..ay.." teriakan khas milik Nana memanggil Ayesha, menyambut kedatangan Ayesha yang baru saja memarkir motor kesayangannya di tempat parkir kampus.
"Iya Na, sebentar"
 "Kamu lama banget sih, aku menunggu bukunya dari tadi, kamu nggak lupa kan?"
  "Ya Ampun Na, tega banget sih. Tau kalau kamu cuman nungguin bukunya, mending tadi bukunya tak suruh jalan sendiri. Lihat nih.. sakit pipiku kena hujan." Ayesha menyodorkan buku dengan wajah manyun sambil mengusap pipinya.
  "Duh, maaf Ayesha sayang.. hehe, kamu kenapa sih malas banget bersentuhan sama hujan?"
"Yah, sebab hujan melukaiku Na.." jawab Ayesha sambil pergi dan menggandeng tangan Nana.
  Perpustakaan kampus, bangku paling pojok menghadap timur tujuan Ayesha, ke mana lagi? tempat terindah yang pernah Ayesha temukan di dunia penuh buku - buku itu yah di pojokan yang kaca jendelanya menghadap taman embun.
  "Taman Embun ku", begitu Ayesha menyebutnya. Bukan karena semua bunga - bunga mendadak menjadi embun, tapi taman itulah yang bisa membuat luka Ayesha menjadi hilang, dan berganti menjadi sebuah kedamaian. Apalagi dalam deras hujan seperti pagi ini, melihat taman embun itu seperti menemukan secuil surga di tengah kokohnya gedung - gedung kampus dengan segala resah, jenuh dan keluh penghuninya.
  ==========)|(==========
"Na, aku ke perpus ya. Maaf kali ini daku tak menemanimu menuntaskan tugasmu yang semacam menulis sandi rumput itu", Ucap Ayesha setelah sampai di depan pintu perpustakaan.
  "Yah, okelah Ay.. kamu pasti mau bertapa lagi. Baik - baik ya, jangan lupa sms aku nanti kalau kepompongmu sudah menetas jadi kupu.. Haha.."
Ayesha bergegas menuju bangku kecintaannya, kemudian meletakkan tas punggungnya ke kursi. Mata Ayesha tak sengaja melihat selembar kertas putih yang terlipat. Sepertinya sebuah catatan milik seseorang yang baru saja duduk di sana.
“Hmm.. ini apa ya? 16.00-18.00? sebuah catatan?” Ayesha berdialog sendiri. Dan sebuah note tertulis di sana.
“16.00 – 18.00 #Seperti payung – payung  yang berjalan di antara deras hujan dan bocah – bocah kecil yang berlarian di belakangnya. Menguntit teduh, tapi ia memilih kuyup dan tertawa bersama kecipak dan guyuran air langit. Mungkin begitulah semestinya mencintai hujan. Tersenyum bersama derasnya. #Halte 5.”
“Wah, ini yang nulis sepertinya cinta sama hujan… hmm tapi mau-maunya basah – basahan.. eh, apa ya maksud halte 5 di bawah catatan itu?, ah.. sudahlah.. menikmati hujan dari sini saja sudah cukup” Lagi – lagi Ayesha melakukan monolo seorang diri. Sesaat Ayesha melupakan catatan itu dan asyik membaca sebuah novel, hingga ketika Ayesha merasa jenuh, Ayesha memandang keluar jendela. Tak sengaja ia melihat sesosok laki – laki yang berjalan santai di bawah hujan.
Berulang kali Ayesha meyakinkan dirinya bahwa di luar benar – benar ada orang yang berjalan santai tanpa payung atau mantel di tengah hujan deras.
Setelah beberapa lama, Ayesha tersadar bahwa memang ada sosok itu dan seketika perhatian Ayesha tertuju pada kertas catatan tadi.
“Ini pasti milik dia”
Ayesha pun bergegas meninggalkan perpustakaan untuk melihat sosok tadi, tak lupa Ayesha mengirim pesan singkat pada Nana bahwa dia harus segera pergi dan kepompongnya sudah menetas.
Ayesha melihat laki – laki tadi belok menuju kamar mandi dekat masjid kampus, dan tak lama berganti pakaian kering, Ayesha masih mengamati.
Merasa ada yang mengamati, laki – laki tadi menoleh dan tersenyum. Kemudian masuk masjid dan Sholat dhuha.
“Aih… aku mesti gimana ini. Apa aku kasih aja ya catatannya?” Ucap Ayesha di beranda masjid.
Hujan masih saja mengguyur, dan kelihatannya akan sampai malam tetap setia mewarnai hari ini. Yah, seharian hujan deras. Ayesha membayangkan ketika pulang nanti dia akan di tampar hujan untuk kesekian kalinya.
20 menit berlalu, Ayesha melihat laki – laki tadi seperti akan keluar dari dalam masjid.
“Assalamu’alaikum, Hai…” Sapa Ayesha
“Wa’alaikumsalam, ya.. Saya?”
“Iya… em, maaf… apa ini punya saudara?” Tanya Ayesha sambil memberikan catatan tadi.
“Eh… iya... terimakasih ya” Laki – laki itu tersenyum setelah menerima catatannya.
“oia, nama saudara siapa? Saya Ayesha.” Ucap Ayesha tiba – tiba, setelah melihat gelagat laki – laki itu mau pergi.
“Ayyash”
Setelah mengatakan namanya Ayyash pun pergi. Meninggalkan Ayesha yang masih dengan rasa penasarannya.
“Tuling..tuling..” Hp Ayesha berbunyi, sms dari Nana.
“Aq mungkin smpe sore di kampus, nunggu dosen”
“oke Na, (” send
Waktu pun berjalan, tak terasa dhuhur telah lewat, Ashar pun menjelang. Pukul 15.30, Ayesha melihat jam tangannya, dan sekelabat Ayesha teringat tulisan di catatan Ayyash. -16.00-18.00 Halte 5-
Ayesha seperti tahu sesuatu, segera saja ia menuju tempat parkir dan mengambil motornya. Halte 5 itulah tujuan Ayesha.
Halte 5,
Masih ramai, padahal hujan belum juga berhenti. Ayesha menyaksikan anak – anak kecil yang berlarian membawa payung kemudian menawarkan payungnya untuk dipakai penumpang yang akan mengejar bus, halte 5 memang istimewa, tempatnya yang menjorok seperti terminal tapi kecil membuat calon penumpang bus harus berlarian menuju bus yang berhenti agak jauh dari tempat berteduh. Halte 5 atau terminal mini begitu orang menyebutnya.
Ayesha memarkir motornya di pojok halte dan menyaksikan pemandangan yang jarang dia perhatikan seperti seperhatian saat ini. Kaki – kaki telanjang, tubuh basah yang lari di belakang penumpang ojek payungnya dan senyum yang selalu menghiasi di sana.
“Hujan pasti sangat tega menampar pipi anak – anak itu, huft, berulang kali  anak – anak itu mengusap pipi nya, tapi kenapa masih saja mereka tersenyum?”
Waktu menunjukkan pukul 16.30... Ayesha menyaksikan sosok Ayyash di tengah – tengah kerumunan ojek payung yang menunggu penumpang, Ayyash terlihat menghampiri seorang gadis kecil yang pipinya kemerahan, kemudian mengambil payungnya dan mengusap kepalanya.
“Ya ampuuun.. ternyata dia, apakah gadis kecil itu adiknya? Ah, sepertinya bukan” batin Ayesha
“Ayyash…” panggil Ayesha sambil melambaikan tangannya pada Ayyash
“Ya.. ada apa?” Tanya Ayyash setelah menghampiri Ayesha
“Kamu, ojek payung?” Tanya Ayesha
Ayyash tertawa dan berkata sebelum pergi lagi
“ Haha.. Yah, beginilah salah satu sikap mencintai hujan, eh.. sudah ya.. aku balik lagi”
Ayesha termenung, menatap punggung Ayyash dan kembali melihat senyum bocah – bocah ojek payung yang berlarian di tengah hujan.
Dalam benak Ayesha menumpuk banyak pertanyaan dan rasa ingin tahu, dan salah satunya adalah “Alasan ekonomikah yang menjadikan mereka tersenyum di balik hujan? Ataukah benar – benar mencintai hujan seperti apa yang Ayyash katakan tadi?”
)*Adik pertamaku