Aktifis Idealis yang Pragmatis

Sudah sering sekali kita mendengar kata-kata idealis dan pragmatis, khususnya untuk kalangan aktifis mahasiswa. Sebutan tersebut memang peredarannya untuk kalangan usia muda yang produktif. Akhir-akhir ini aku sering mendengar kata-kata itu, mulai dari saat diskusi, saat pembimbingan Kuliah Kerja, dan yang terakhir saat ngobrol masalah demo mahasiswa menolak kenaikan BBM.

Kalo dilihat dari arti katanya, menurut kamus besar bahasa Indonesia, idealis berarti 1 orang yg bercita-cita tinggi; 2 pengikut aliran idealisme. Sedangkan arti idealis setahuku adalah sifat seseorang yang selalu ingin semua yang ada pada dirinya dan lingkungannya berjalan sesempurna mungkin. Seorang yang idealis juga sering digambarkan sebagai seorang yang tahan terhadap godaan dalam mencapai apa yang dicita-citakannya.

Sedangkan kata pragmatis menurut kamus besar bahasa indonesia adalah 1 bersifat praktis dan berguna bagi umum; bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan); mengenai atau bersangkutan dng nilai-nilai praktis; 2 mengenai atau bersangkutan dng pragmatisme. Menurutku seorang yang pragmatis itu selalu berpikiran "yang penting selesai, tujuan tercapai" entah bagaimana caranya, apakah hasilnya sempurna atau tidak yang penting dia sudah menghasilkan dan memenuhi batas minimal.

Bagi kalangan aktifis, terutama mahasiswa, pasti sudah terbiasa dengan pengkotak-kotakan dengan sebutan mahasiswa idealis atau mahasiswa pragmatis. Terkadang memang jiwa muda yang selalu menginginkan yang terbaik dimana Imam Syahid Hasan Al-Banna menyatakan bahwa seorang pemuda adalah seorang yang memiliki semangat yang menggelora sehingga seringkali menumbuhkan jiwa idealis dalam dirinya. Memang terkadang ada juga pemuda yang karena terbiasa nyantai, selalu berpikiran bagaimana bisa mencapai tujuan dengan cara yang paling mudah walaupun konskuensinya hasilnya tidak maksimal.

Banyak yang menganggap seorang aktifis adalah orang yang idealis. Punya visi atau cita-cita yang tinggi yang kemudian disalurkan melalui berbagai organisasi. Tetapi menurutku tidak. Berdasarkan pengamatanku dan pergaulanku dengan teman-teman aktifis mahasiswa maupun aktifis ekstra kampus, idealis hanyalah salah satu sisi kehidupan mereka. Seseorang hanya akan bersikap idealis pada hal-hal tertentu dimana ia punya interest atau ketertarikan terhadapnya. Misalnya, seorang aktifis sosial, ia akan cenderung idealis pada hal-hal yang berbau sosial, aktifis keagamaan akan idealis pada hal-hal yang berbau keagamaan, dan begitu juga dengan yang lainnya.

Kenyataannya kebanyakan para aktifis yang terlihat idealis tersebut bersikap pragmatis pada hal lain dihidupnya, misalnya pragmatis terhadap studi atau kuliahnya. Keaktifannya untuk menyalurkan idealismenya di organisasi seringkali membuatnya berfikir "tugas yang penting ngumpulkan, kuliah yang penting lulus, IPK di atas 2,5" dan dia tidak peduli itu mau ditempuh berapa tahun. Ada juga mahasiswa yang pragmatis terhadap kegiatan-kegiatan sosial, ia lebih suka berkutat dengan materi-materi kuliah, tetapi ia idealis mengenai studinya, ia menginginkan yang terbaik dan mencita-citakan hasil studi yang sempurna. Hanya sedikit dari para aktifis yang bisa idealis dalam berbagai hal.

Memang hidup ini adalah pilihan, idealis dan pragmatis juga pilihan. Namun, keduanya bisa juga berada dalam diri seseorang secara bersamaan. Kemampuan, semangat, dan kapasitas diri seseoranglah yang mempengaruhi seberapa banyak hal yang mampu dia idealiskan dan seberapa banyak hal yang dia pragmatiskan. Oleh karena itu, pengkotak-kotakan aktifis mahasiswa dengan embel-embel mahasiswa idealis dan mahasiswa pragmatis itu kurang tepat, karena kadang kala ia idealis dalam satu hal, tetapi pragmatis pada hal yang lain. Sehingga predikat idealis dan predikat pragmatis bukanlah suatu hal yang patut dibanggakan atau hal yang membuat minder.

Idealis dan pragmatis seperti sebutan pintar dan bodoh, karena kata tersebut hanya menunjukkan satu sisi dari banyak sisi dikehidupan seseorang. Akan tetapi semakin banyak sisi yang mendapat predikat idealis, maka ia akan terlihat idealis meskipun kenyataannya dia mempunyai sisi-sisi lain yang pragmatis, begitu juga sebaliknya. Sehingga sebagai seorang aktifis atau mahasiswa dengan jiwa muda yang menggelora, sudah seharusnya kita bercita-cita yang tinggi, perbanyaklah sisi idealis dihidupmu. Kerjakan dengan sungguh-sungguh, niatkan karena Allah, dan berusahalah semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Karena untuk menjadi idealis membutuhkan kesungguhan, semangat tinggi, keikhlasan, dan manajemen waktu yang baik.

"Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (QS : 7).