Pedagang Koran, Black Market dan Koran Bekas

Senin lalu tanggal 5 September 2011 aku berangkat merantau lagi. Biasa, memenuhi kewajiban menuntut ilmu. Jember, itulah kota tujuanku. Namun, kali ini aku berangkat lewat Surabaya bersama temanku, Dedik, anak Unair. Kami berangkat pagi sekitar pukul 09.00 WIB mengendarai sepeda motor. Kelelahan karena macetnya jalan akibat arus balik lebaran membuat kami berhenti istirahat beberapa kali. Allahmdulillah akhirnya kami sampai dengan selamat di rumah kontrakan temanku daerah Mulyorejo, Surabaya.

-===-
Berbahagialah mereka yang bahagia ketika bisa memberi dan bermanfaat untuk orang lain, karena kehidupannya sangat dekat dengan kebahagiaan, dan semua itu hanya dimiliki oleh mereka yang ikhlas...

Sore itu, aku dan temenku, dedik, keluar cari makan setelah beberapa saat istirahat akibat kecapekan karena perjalanan jauh Trenggalek - Surabaya. Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan ke Hi-Tech mall dengan mengambil jalan pintas terdekat. Di sebuah lampu lalu lintas yang mengatur lalu lintas perempatan jalan, seorang gadis kecil, mungkin seumuran adikQ yang terakhir, yaitu sekitar 8 tahunan menjajakan korannya yang tinggal sedikit. Bajunya yang lusuh, rambut bertabur debu yang terurai tak tertata menguatkan kesannya sebagai anak jalanan. Semuanya membuatku berfikir, di antara gedung-gedung mewah yang tinggi, di antara lalu lalang mobil-mobil mewah, tak adakah rasa kemanusiaan untuk memberi sedikit dana yang akan membuatnya bisa menikmati masa kanaknya dan menempuh studinya? Dia, gadis kecil penjual koran itu sebab ataukah akibat? sebenarnya jika kita ingin membantu, mungkin dengan membeli korannya kita telah memberinya kebahagiaan bahwa korannya hari ini laku. Bukan masalah koran yang dijual sore hari telah basi atau harganya yang mahal, tapi kebahagiaan yang telah kita berikan akan sangat berarti buatnya. Dan semoga Allah akan memberi ganti yang lebih baik dan lebih banyak sehingga kita mampu memberi yang lebih baik dan lebih banyak dari yang bisa kita berikan sekarang. Aamiinn...

-===-
Dari Abu Muhammad, Al Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, cucu Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kesayangan beliau radhiallahu 'anhuma telah berkata: “Aku telah menghafal (sabda) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu, bergantilah kepada apa yang tidak meragukan kamu“. [HR. Tirmidzi dan dia berkata: Ini adalah Hadits Hasan Shahih]

Ketika malam menjelang, disekitaran jalan A.Yani atau di tepi jalan samping Darmo Trade Center atau DTC akan banyak dijumpai pedagang-pedagang Hand Phone atau HP yang membentuk semacam pasar, aku dan temenku dedik menyebutnya pasar syubhat, karena kami menganggap barang barang di sana itu status kehalalannya masih meragukan atau syubhat. Banyak HP murah yang dijajakan disitu. Pasar ini terkenal sebagai pasar barang-barang yang kuran jelas asal-usulnya. Kemungkinan besar adalah hasil curian. Beberapa kali aku nawar HP, sulit sekali mencari HP yang memiliki kelengkapan. Kebanyakan cuma dijual batangan alias HP+Charge. Kalo pun ada yang lengkap bisa dipastikan itu adalah barang BM (HP Aspal). HP BMan ini bentuknya seperti HP-HP bermerk seperti nokia, sony erricson dll. hanya saja OSnya java khas cina dan fitur-fiturnya pun terbatas, tidak selengkap yang original. HP ini harganya bisa sangat murah. Kemaren sebuah HP replika nokia hanya dijual seharga 1,3jt, padahal jika kita membeli yang asli, jarganya bisa mencapai 5jt-an. Untuk sebagian orang pasti sangat suka dengan adanya pasar ini membuat mereka senang, bisa membeli HP dengan harga yang sangat murah tanpa mereka sadarai bahwa mereka berkemungkinan besar menanggung dosa karena membeli barang curian atau resiko rugi karena tidak adanya garansi. Semoga kita bisa menghindari hal yang masih meragukan ini sehingga bisa terhindar dari dosa. Aamiin..

-===-
Berdo'alah dan buatlah ALLAH mencintaimu, niscaya DIA akan memberimu tanpa perhitungan...

Selasa, 6 September 2011. Pagi itu setelah sarapan pagi, karena belum ada agenda yang jelas, aku iseng-iseng membolak-balik koran Jawa Pos bekas dengan tanggal 24 Agustus 2011. Koran itu cuma satu lembar. Setelah membaca beberapa berita, ada satu artikel yang menarik perhatianku. Artikel itu klo gak salah berjudul Berjihad Lewat Bisnis oleh Sandiaga S.Uno. Isi artikel itu sangat menginspirasi sekaligus menjadi sindiran buatku. Dalam artikel itu Pak Sandi sangat menjaga ibadah dan mendekatkan diri pada Allah. Dalam salah satu kisahnya, di kantor beliau semua ruangan memiliki pengeras suara yang berfungsi sebagai  Public Announcement atau sebagai alat pengumuman yng mana ketika waktu sholat tiba di seluruh ruang kantor akan berkumandang suara adzan. Ketika adzan terdengar beliau mewajibkan semua karyawan untuk berhenti beraktifitas dan mendengarkan adzan, apapun kegiatannya termasuk meeting yang sangat penting sekali pun. Setelah selesai adzan, semua diwajibkan untuk sesegera mungkin melaksanakan sholat. Kata beliau, "Klo kita sama Allah saja berani menunda-nunda, apa lagi sama teman kerja". Ya, tepat waktu, itulah yang akan membuat kita dipercaya. Kemudian ku coba bandingkan degan diriku yang belum jadi apa-apa tapi ibadahnya kalah dengan Pak Sandi. Subhanallah... Andai saja pemimpin-pemimpin negeri ini seperti beliau, mungkin negeri ini akan lebih barokah.


Ibrahim Aghil