Redefining Insya Allah


Masih ingat tentang videonya Sacha Stevenson yang membahas tentang insya Allah? Mungkin bagi sebagian orang video tersebut sangat menghina banget tapi bagi saya video tersebut merupakan peringatan untuk mengoreksi diri seberapa baikkah kita telah berislam.

"...karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat: 55)

 Di dalam video itu ditunjukkan tentang kebiasaan-kebiasaan orang Indonesia yang sering menggunakan kata "insya Allah" sebagai alasan agamis untuk mem-PHP-in orang. Kebiasaan menganggap "insya Allah" sebagai jawaban yang membuat seseorang yang mengucapkannya merasa bisa bebas dari tanggung jawab terhadap apa yang disumpahkannya menjadikan kata "insya Allah" mengalami peyorasi atau penurunan nilai makna. Sacha Stevenson mengatakan dalam videonya kalau ada orang yang berhutang kemudian bilang "insya Allah saya balikin besok" maka itu merupakan tanda-tanda bahaya. Anggapan ini sudah sangat umum di masyarakat sehingga seringkali ketika saya berjanji dengan mengucapkan "insya Allah", lawan bicara saya selalu mengatakan "Jangan insya Allah dong, yang pasti gitu, iya atau tidak?" sehingga mereka tidak mau di-insya Allah-in. Jawaban yang mengandung "insya Allah" seakan-akan menjadi jawaban yang bullshit. Lalu kenapa banyak orang meremehkan "insya Allah"nya? apa karena mereka tidak tahu arti dan pertanggung jawaban perkataannya? atau karena memang mereka ikut-ikutan saja? jangan-jangan begitu juga dengan kita, hanya ikut-ikutan "katanya ustadz" kalau janji bilang insya Allah tanpa tahu landasan dan kisah dibaliknya?

Insya Allah

Kata insya Allah berasal dari bahasa Arab yang berarti jika Allah menghendaki. Kata insya Allah di timur tengah yang menggunakan bahasa Arab digunakan oleh semua umat beragama samawi untuk menyatakan janji, utamanya umat Islam dan kristen ortodok. Penggunaan kata insya Allah ketika berjanji sendiri oleh Allah diwajibkan melalui firman-Nya di dalam Al-Qur'an QS. Al-Kahfi ayat 23-24 yaitu:
Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini". (QS. Al-Kahfi:23-24)
Ucapan insya Allah ini merupakan salah satu bukti keimanan kita pada Allah, bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendak-Nya. Jika kita meresapi makna "insya Allah" secara mendalam, kata tersebut akan menjadi dzikrul maut kita ketika kita mengucapkannya karena insya Allah menunjukkan bahwa tidak ada jaminan pasti kehidupan seseorang sampai pada amal yang dia niatkan. Selain itu, "insya Allah" adalah bukti kepasrahan kita kepada Allah.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir memberi penjelasan mengenai surat Al-Kahfi ayat 23-24 bahwa ayat ini turun sebagai teguran kepada Rasulullah yang lupa mengatakan "insya Allah" ketika berjanji. Disebutkan pula oleh Ibnu Katsir bahwa yang dimaksud "Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa" dalam ayat ke 24 bukan berarti ada keringanan tanggung jawab pada kita ketika mengucapkan "insya Allah", tetapi ketika kita lupa mengucapkan "insya Allah" maka segera memperbarui janji kita.

Dari penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya dapat diketahui bahwa berjanji tanpa mengucapkan "insya Allah" merupakan salah satu bentuk kesombongan. Hal ini juga tercermin dalam kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang juga merupakan asbabun nuzul QS. Al Kahfi ayat 23-24.

Di dalam riwayat tersebut dikemukakan bahawa kaum Quraisy telah mengutus an Nadh bin al Harts dan Uqbah bin Abi Muith kepada pendeta Yahudi Madinah untuk bertanya tentang kenabian Muhammad dengan menceritakan sifat-sifatnya dan segala sesuatu yang telah diucapkannya. Orang-orang Quraisy beranggapan bahawa pendeta-pendeta itu adalah ahli di dalam memahami kitab yang telah diturunkan terlebih dahulu dan mempunyai ilmu pengetahuan tentang tanda-tanda kenabian yang orang Quraisy tidak mengetahuinya.

Kemudian kedua orang utusan itu berangkat menuju ke Madinah dan bertanya kepada pendeta-pendeta Yahudi itu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kaum Quraisy. Lalu berkatalah pendeta itu kepada utusan Quraisy: "Tanyalah kepada Muhammad akan tiga perkara. Jika dia dapat menjawabnya, maka dia adalah seorang Nabi yang diutuskan. Akan tetapi jika dia tidak dapat menjawabnya, maka dia hanyalah orang yang mengaku menjadi Nabi. Tanyalah kepadanya tentang para pemuda pada zaman dahulu yang bermusafir dan apa yang terjadi kepada mereka kerana cerita tentang pemuda itu sangat menarik. Tanyakan kepadanya tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyrik dan Maghrib dan apa pula yang terjadi padanya dan tanyakan kepadanya tentang roh, apakah roh itu." Kemudian kedua orang utusan itu pulang kepada kaum Quraisy dan berkata: "Kami datang membawa sesuatu yang dipergunakan untuk menentukan sikap di antara tuan-tuan dan Muhammad."

Mereka pun berangkat mengadap Rasulullah dan bertanya akan tiga perkara tersebut. Rasulullah bersabda: "Aku akan menjawab tentang perkara-perkara yang kamu persoalkan itu (tanpa menyebut Insya Allah)." Maka pulanglah mereka kesemuanya.

Rasulullah menunggu penurunan wahyu kepadanya sehingga lima belas malam lamanya, tetapi Jibril tidak juga kunjung tiba sehingga orang Mekah tidak lagi yakin kepadanya. Rasulullah merasa sedih kerananya dan baginda juga tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada kaum Quraisy.

Pada suatu ketika Jibril datang membawa surah Kahfi yang di dalamnya mengandungi teguran kepada Nabi di atas kesedihannya yang disebabkan oleh perbuatan mereka (QS Al Kahfi: 18:6), di samping menerangkan tentang pertanyaan yang diajukan oleh kaum Quraisy kepada Nabi tentang pemuda yang musafir (QS Al Kahfi: 18: 9-26) dan seorang pengembara (QS Al Kahfi: 18: 83-101) serta firman Allah tentang roh (QS Al Israa': 17: 85). (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Ishaq dari seorang alim berbangsa Mesir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas)

Kata "insya Allah" yang begitu penting ini sangat disayangkan telah mengalami penurunan makna karena ketidakfahaman umat Islam yang sering mengucapkannya. Oleh karena itu, sebagai orang yang beriman hendaknya kita selalu mengucapkan "insya Allah" ketika berjanji, mengingatkan orang lain, memberikan pemahaman dan menjadi contoh yang baik dalam berjanji sehingga kita bisa me-redefining kata insya Allah.

Ucapkan "insya Allah" ketika berjanji, karena "insya Allah" bukan PHP...!!!
eeiittts... tapi pastikan juga "insya Allah" nya. insya Allah iya atau insya Allah enggak? biar gak salah paham. :)

Ibrahim Aghil