.
loading...
Loading...

Jalan Cinta Darussalam: Kambing

Reply A+ A-
Pada zaman dahulu di sebuah kesultanan kecil di tanah Melayu, ada seorang pemuda alim yang bertingkah laku aneh. Pemuda itu bernama Maulana Nuruddin yang biasa di panggil si Bujang. Ia adalah putra tunggal Syaikh Syamsuddin, salah seorang syaikh besar di kesultanan itu. Sejak wafatnya sang Syaikh, si Bujang sering berpergian ke tempat-tempat yang sepi dan ramai. Dari hari ke hari tingkah lakunya semakin aneh saja

Pada suatu hari si Bujang pergi ke pasar. Di sana, ia tertarik melihat tukang durian yang sedang melayani pembeli. Kemudian ia segera duduk di seberang tukang durian itu. Namun, entah apa yang lucu, tiba-tiba saja ia tersenyum-senyum seorang diri. Tentu saja ulah si Bujang itu menjadi perhatian teman-temannya yang sedang berada di sebuah kedai. Maka, salah seorang di anatra mereka pun segera menghampiri Bujang.

"Assalamu'alaikum," salam Imam.
"Wa'alaikumsalam. Hai, Imam. Silakan duduk, silakan!"
"Bujang, apa yang kau lihat hingga membuatmu tersenyum sendirian?" Tanya Imam setelah duduk di samping Bujang.
"Aku sedang melihat orang bahagia."
"Siapa dan di mana orang itu?" tanya Imam heran.
"Itu lihat di sana!" ujar Bujang sambil menunjuk ke arah penjual durian yang sibuk melayani pembeli.
"Siapa?" tanya Imam lagi yang masih keheranan.
"Tidakkah kau lihat penjual durian itu bahagia karena dagangannya laris? Tentu ia sedang membayangkan senyum cerah istri dan anak-anaknya," ujar Bujang sambil tersenyum seakan turut merasakan kebahagiaan keluarga penjual durian.

"Lalu apa gunanya semua itu bagimu?"

Dengan melihat kebahagiaan penjual durian itu, insya Allah aku pun siap menyambut kebahagiaanku," jawab Bujang dengan tenang.

Mendengar jawaban Bujang yang seperti itu, Imam pun meledak tawanya. Ia menertawai bujang sambil mengungkit-ungkit status bujang yang masih menganggur. Namun, Bujang tidak mempedulikan ejekan temannya itu. Ia masih asyik memperhatikanpenjual durian sehingga Imam pun menghentikan tawanya.
"Hai Bujang. Kalau kau hendak menyambut kebahagiaan, mengapa kau tidak mencari kerja?" tanya Imam.
"Untuk apa cari kerja?" tanya Bujang.
"Ya, untuk cari uang."
"Untuk apa cari uang?"
"Ya, tentu saja untuk makan."
"Lalu, untuk apa makan?"
"Tentu saja agar kuat cari uang."
"Kalau cari kerja untuk cari uang, cari uang untuk makan, makan untuk kerja, dan kerja untuk cari uang lagi, apa bedanya kau dengan kambing itu?" tanya Bujang sambil menunjuk seekor kambing yang sedang makan rumput tidak jauh darinya.

Imam berpaling ke arah yang ditunjuk Bujang. Tiba-tiba saja wajahnya merah padam karena Bujang menyamakan dirinya dengan seekor kambing. Ia pun segera bangkit dan berjalan meninggalkan Bujang yang masih asyik melihat penjual durian.
loading...
Ngaji 4499812806813458667

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item
loading...
loading...

Mungkin Suka

loading...